Ujian sebagai Pendidikan Jiwa: Moh Fikri Alamin Menjalani Hakikat PSHT di Tengah Keterbatasan
Minggu, 11 Jan 2026 15:23 WIB
Gresik – info global news// Ujian Kenaikan Tingkat dari sabuk hijau ke putih Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang digelar pada Minggu (11/1/2026) di Padepokan Asem Pandan, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, bukan sekadar agenda rutin organisasi.
Dalam ajaran PSHT, ujian merupakan sarana pendidikan jiwa untuk mengukur sejauh mana seorang warga mampu menyelaraskan pikiran, perasaan, dan perbuatan dalam nilai Setia Hati.
Di tengah pelaksanaan ujian tersebut, sosok Moh Fikri Alamin hadir bukan untuk dikasihani, melainkan untuk diuji kelayakannya sebagai insan Setia Hati. Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, Fikri justru menampilkan makna terdalam dari ajaran PSHT: bahwa ukuran manusia bukan terletak pada kekuatan raga, melainkan pada keteguhan sikap dan kematangan batin.
Falsafah PSHT memandang sabuk bukan sebagai simbol kehebatan, melainkan penanda bertambahnya tanggung jawab moral. Semakin tinggi tingkat seseorang, semakin besar kewajibannya untuk bersikap jujur, rendah hati, serta menjaga persaudaraan. Oleh karena itu, ujian kenaikan tingkat tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling siap memikul nilai-nilai luhur tersebut.
Moh Fikri Alamin menjalani setiap tahapan ujian dengan kesungguhan dan disiplin tinggi. Dalam ajaran Setia Hati, sikap semacam ini jauh lebih utama dibandingkan kesempurnaan gerak teknik.
PSHT menanamkan keyakinan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menundukkan rasa takut, rasa rendah diri, dan dorongan untuk menyerah.
“PSHT mengajarkan saya untuk berdamai dengan diri sendiri dan terus berusaha menjadi lebih baik,” ujar Fikri.
Pernyataan ini mencerminkan esensi ajaran Setia Hati, bahwa latihan dan ujian adalah jalan pembentukan kesadaran diri, bukan ajang mempertontonkan kemampuan.
Sejak didirikan pada tahun 1922 oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, PSHT menjadikan pencak silat sebagai sarana pembentukan manusia berbudi luhur. Jurus hanyalah alat, sedangkan watak adalah tujuan.
Ujian hanyalah proses, sementara yang dinilai adalah kejujuran hati dan kesetiaan pada kebenaran.
Melalui langkah-langkahnya di arena ujian, Moh Fikri Alamin menunjukkan bahwa ajaran PSHT benar-benar hidup dan relevan. Bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tumbuh dan berproses, selama niat dijaga, adab ditegakkan, dan semangat memperbaiki diri terus menyala.
Space Iklan Tersedia
Berita Populer
-
Maraton Internasional Kembali Digelar di Jakarta
Olahraga • 3 bulan yang lalu -
Tren Kuliner Sehat Kian Digemari
Lifestyle • 3 bulan yang lalu -
Fashion Ramah Lingkungan Semakin Populer
Lifestyle • 3 bulan yang lalu -
Pemerintah Luncurkan Program Transparansi Anggaran
Politik • 3 bulan yang lalu -
Tim Nasional Siap Hadapi Kualifikasi Piala Dunia
Olahraga • 3 bulan yang lalu